Perceraian Menurut Pandangan Islam
Suami Istri

Perceraian Menurut Pandangan Islam

Spread the love

As-Ansar – Perceraian menyebabkan kehancuran bagi suatu keluarga yang bercerai berai tersebut. Pada awalnya satu pasangan yang telah mengikrarkan janji pernikahan. Kepercayaan cinta mereka yang memang bisa saling disatukan dan ingin selalu bersama. Tiba-tiba merubah kenyataan tidak bisa bersatunya lagi dengan satu alasan bahwa sudah tidak cocok dan tidak saling mencintai lagi. Akan tetapi, kedua pasangan yang telah memiliki seorang anak terkadang tidak memikirkan perasaan sang buah hatinya. Kedua pasangan itu hanya memikirkan diri sendiri dan membesarkan ego dibandingkan rasa kepedulian terhadap anak. Sebenarnya sebuah perceraian bisa terjadi bukan berdasarkan tidak saling cocok ataupun permasalahan sepele lainnya. Melainkan kedua pasangan itu terlalu mengikuti ego masing-masing dan tidak mau saling mengalah satu sama lain. berbeda kasus jika perceraian disebabkan kekerasan rumah tangga, perselingkuhan, dan sudah tidak dinafkahi lagi. Pada dasarnya kedua orang pria dan wanita itu menikah karena saling mencintai, sehingga seharusnya tidak ada kata sudah tidak cocok. Tidak ada kecocokan itu seharusnya sudah mereka rasakan dari awal kenal maupun bertemu bukan setelah menikah hingga memiliki anak. Jika mereka para orang tua yang sudah memiliki buah hati bisa merasakan perasaan sang anak melihat perceraian orang tuanya. Betapa kecewa dan sedih seorang anak melihat kenyataan bahwa ia tidak bisa bersama-sama lagi berkumpul setiap hari dengan keluarganya. Ditambah lagi saat kedua orang tuanya saling menikah satu sama lain lagi. Mereka akan merasa asing antara berkumpul dengan keluarga sang ayah atau keluarga sang ibu.

Menurut islam sendiri perceraian merupakan suatu keputusan yang dibenci oleh Allah. Perceraian sama halnya dengan pertikaian yang dipicu oleh suatu permasalahan dan saling menyakiti satu sama lain. Terlebih perceraian bukan hanya saling menyakiti satu sama lain, namun orang ketiga yakni seorang anak lebih tersakiti yang terancam hancur masa depannya. Dalam islam arti perceraian ialah memutus tali perkawinan baik pihak istri maupun suami yang ditandai dengan tidak ada tanggung jawab suami lagi terhadap istri, begitu sebaliknya istri tidak memiliki hak menuntut terhadap suami. Kedua pasangan yang bercerai berai itu sudah tidak diperbolehkan berhubungan intim, saling menyentuh bahkan berduaan di manapun. Masalah perceraian ini telah diatur oleh Allah melalui pedoman Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 227 yang intinya terkait  perceraian diperbolehkan apabila sudah tidak ditemukan jalan keluar dengan alasan kuat bukan sekedar ego karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Pendengar. Bab perceraian juga dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 228 sampai ayat 232 yang artinya membahas tentang aturan-aturan hukum talak (perceraian), masa iddah (masa di mana setelah perceraian diputuskan) untuk sang istri, dan hukum-hukum dalam masa iddah sekaligus tidak diperbolehkannya suami masih berhubungan dengan mantan istri sewaktu masa iddah. Bahkan surat itu juga menjelaskan hak dan kewajiban antara seorang ayah dan anak setusai perceraian. Pada intinya islam memang memperbolehkan perceraian, namun Allah membencinya dan ada beberapa aturan yang wajib dijalani oleh umat islam walau sudah melangsungkan perceraian.

Allah memberikan berbagai macam aturan melalui penjelasan pada Al-Qur’an sebab hakikatnya manusia adalah ciptaan Allah dan akan kembali kepadaNya. Sehingga, Allah memiliki kewajiban memberikan peraturan yang menimbulkan ketiadaan rugi antar salah satu pihak pernah bersatu tersebut. Bahkan, Allah mengajarkan umatnya untuk tetap menjalin tali silaturahmi setelah perceraian dan setelah masa iddah bagi mantan istri agar tetap saling menghargai dengan batasan-batasan tidak seperti saat menjadi pasangan dahulu lagi.

One Reply to “Perceraian Menurut Pandangan Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *